JAKARTA - Kalau dilihat dari sudut pandang penulisan profesional—apalagi dalam konteks psikologi klinis—penggunaan frasa seperti “perilaku negatif istri meningkat dan tidak bisa ditoleransi lagi” memang terasa problematis. Bukan semata karena isinya, tetapi karena cara penyampaiannya yang cenderung bernuansa penilaian pribadi, bukan deskripsi ilmiah.
Dalam praktik psikologi, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga
mencerminkan objektivitas. Seorang psikolog diharapkan menyampaikan kondisi
klien dengan istilah yang terukur, berbasis observasi, dan minim bias. Ketika
muncul kata-kata seperti “tidak bisa ditoleransi lagi”, itu memberi
kesan bahwa penilaian tersebut berasal dari sudut pandang emosional atau bahkan
berpihak, bukan dari hasil asesmen profesional yang terstandar.
Bayangkan jika surat ini dibaca oleh pihak ketiga, seperti hakim. Alih-alih
melihatnya sebagai laporan kondisi psikologis, mereka bisa menafsirkannya
sebagai opini yang memihak salah satu pihak. Ini berisiko menurunkan
kredibilitas surat, bahkan bisa membuatnya dipertanyakan sebagai alat bukti.
Bahasa yang lebih tepat biasanya akan menghindari label seperti “negatif”
tanpa penjelasan, dan menggantinya dengan deskripsi perilaku yang spesifik.
Misalnya, bukan mengatakan “perilaku negatif meningkat”, tetapi menjelaskan
bentuk perilakunya: apakah berupa ancaman verbal, ledakan emosi, atau pola
komunikasi agresif. Dengan begitu, pembaca bisa memahami situasinya tanpa
merasa sedang diarahkan untuk menyetujui suatu penilaian tertentu.
Di sinilah pentingnya netralitas: bukan untuk mengaburkan fakta, tetapi
justru untuk memperjelasnya tanpa bias. Bahasa yang netral membuat sebuah
dokumen terasa lebih kredibel, lebih profesional, dan lebih dapat
dipertanggungjawabkan—terutama ketika masuk ke ranah hukum.
