JAKARTA - Dalam praktik profesional, psikolog memiliki wilayah kerja yang jelas: menjelaskan kondisi mental, bukan menentukan langkah hukum.
Namun dalam beberapa kasus, batas ini bisa tampak kabur—terutama ketika
sebuah surat keterangan seolah “mendukung” keputusan klien untuk tidak
menghadiri sidang.
Di sinilah persoalan mulai muncul. Ketika sebuah dokumen menyiratkan bahwa
ketidakhadiran di persidangan adalah pilihan yang “dibenarkan”, publik bisa
menafsirkan bahwa psikolog ikut memberi legitimasi terhadap keputusan tersebut.
Padahal, secara etik, peran psikolog seharusnya berhenti pada pemaparan
kondisi psikologis dan potensi risikonya, bukan pada rekomendasi tindakan hukum
yang spesifik.
Dalam konteks ini, penting untuk membedakan antara penjelasan dan pembenaran.
Menjelaskan bahwa seseorang berpotensi mengalami tekanan psikologis jika hadir
di sidang adalah bagian dari tugas profesional. Namun ketika narasi bergeser
menjadi seolah-olah “lebih baik tidak hadir”, maka dokumen tersebut sudah masuk
ke wilayah yang bukan otoritasnya.
Seorang akademisi psikologi forensik pernah menegaskan hal ini. Seperti
dikatakan oleh Dr. Reza Indragiri Amriel (Psikolog Forensik):
“Psikolog tidak berwenang menentukan sikap hukum seseorang. Tugasnya adalah
memberikan gambaran kondisi psikologis dan risiko yang mungkin timbul, bukan
mengarahkan keputusan hukum,” ujarnya
Kutipan ini menegaskan bahwa ada garis batas yang tidak boleh dilampaui.
Ketika batas tersebut kabur, bukan hanya kredibilitas dokumen yang
dipertaruhkan, tetapi juga integritas profesi itu sendiri.
Jika
ditarik lebih dalam, pernyataan tersebut sebenarnya berbicara tentang batas
profesional (professional boundaries) dan integritas peran—dua hal
yang sering dianggap sepele, tetapi justru menjadi penentu apakah sebuah
profesi dipercaya atau tidak.
Dalam
dunia berbasis keilmuan seperti psikologi, setiap profesi memiliki “wilayah
kerja” yang dibentuk oleh kompetensi dan kode etik. Psikolog, misalnya, dilatih
untuk memahami, menganalisis, dan menjelaskan kondisi mental seseorang. Mereka
punya alat, metode, dan kerangka ilmiah untuk itu.
Namun,
mereka tidak diberi mandat untuk mengambil keputusan hukum, seperti
menyarankan hadir atau tidak hadir di sidang. Itu adalah wilayah hakim,
pengacara, atau pihak terkait dalam sistem hukum.
Nah,
ketika seorang ahli mulai “terdengar” seperti pengambil keputusan—meskipun
tidak secara eksplisit mengatakan “jangan hadir”—tetap saja ada kesan bahwa ia
sedang mengarahkan.
Di titik
ini, kehati-hatian menjadi penting karena:
- Publik cenderung menganggap
pernyataan ahli sebagai kebenaran objektif.
Apa yang disampaikan psikolog tidak lagi dilihat sebagai opini biasa, tetapi sebagai sesuatu yang “ilmiah” dan layak diikuti. - Bahasa memiliki kekuatan
sugestif.
Kalimat yang tampak deskriptif bisa dengan mudah ditafsirkan sebagai rekomendasi, apalagi dalam konteks sensitif seperti persidangan. - Ada potensi konflik peran.
Ketika psikolog terlihat mendukung keputusan tertentu, ia bisa dianggap tidak netral, bahkan berpihak pada salah satu pihak.
Di
sinilah muncul gagasan bahwa menjaga jarak justru memperkuat posisi
profesional.
Jarak
yang dimaksud bukan berarti tidak peduli, tetapi tetap berada dalam koridor
keahlian. Misalnya, alih-alih mengatakan atau menyiratkan “sebaiknya tidak
hadir”, seorang psikolog cukup menjelaskan:
- kondisi psikologis klien,
- potensi dampak jika
menghadapi situasi tertentu,
- serta risiko yang mungkin
muncul.
Dengan
cara ini, keputusan tetap berada di tangan pihak yang berwenang, sementara
psikolog tetap kredibel sebagai penyedia informasi objektif.
Lebih
jauh lagi, dalam perspektif publik dan hukum, netralitas adalah mata uang
kepercayaan. Sekali seorang profesional dianggap berpihak atau melampaui
kewenangannya, maka:
- isi pernyataannya bisa dipertanyakan,
- kredibilitasnya bisa
menurun,
- bahkan profesinya secara
umum bisa ikut terdampak.
Sebaliknya,
ketika seorang ahli konsisten menjaga batas—tidak lebih, tidak kurang—ia justru
terlihat lebih kuat. Pernyataannya dianggap jernih, tidak bias, dan bisa
dijadikan dasar pertimbangan yang adil.
Jadi,
inti dari pernyataan tadi adalah ini: Profesionalisme bukan hanya soal apa
yang kita ketahui, tetapi juga tentang sejauh mana kita tahu batas peran
kita—dan disiplin untuk tidak melampauinya. Di situlah kepercayaan
dibangun, dan di situlah nilai seorang ahli benar-benar diuji.
