test

Rumah Tangga 23 Tahun Retak, Perbedaan Karakter hingga Dugaan Orang Ketiga Jadi Pemicu

 


JAKARTA — Seorang perempuan berinisial M mengungkap dinamika rumah tangganya yang telah berjalan selama 23 tahun bersama suaminya berinisial WWI. Ia menilai perbedaan karakter yang mendasar serta hadirnya pihak ketiga menjadi faktor utama renggangnya hubungan mereka dalam beberapa tahun terakhir.

 

M menceritakan, sejak awal pernikahan ia mengenal suaminya sebagai sosok perfeksionis, disiplin, dan teratur. Namun, menurut dia, perbedaan standar dan ekspektasi kerap memicu kesalahpahaman di antara keduanya.

 

“Dia ingin saya rapi, disiplin, dan teratur. Saya berusaha mengikuti. Tetapi setiap kali saya merasa sudah melakukannya, menurutnya itu belum sesuai,” ujar M saat ditemui, belum lama ini.

 

Menurut M, persoalan tidak berhenti pada perbedaan standar, tetapi juga pada kurangnya komunikasi yang konkret. Ia mengaku kerap meminta penjelasan mengenai standar yang diharapkan, namun merasa tidak mendapatkan contoh yang jelas.

 

“Ketika saya bertanya seperti apa yang dimaksud rapi atau teratur, jawabannya hanya ‘pikirkan sendiri caranya’. Sementara standar yang diinginkan tidak pernah dijelaskan secara rinci,” katanya.

 

M menyebut kondisi tersebut berulang kali menjadi pemicu konflik. Meski demikian, pasangan ini memiliki kesepakatan tidak tertulis untuk menyelesaikan pertengkaran dalam waktu maksimal dua jam. Setelah itu, mereka berupaya berdamai, misalnya dengan makan bersama atau menonton film.

 

“Saya menganggap konflik dalam rumah tangga itu hal yang wajar, selama bisa diselesaikan,” ujarnya.

 

Namun, situasi berubah ketika M menduga adanya pihak ketiga dalam rumah tangga mereka. Ia menilai sejak saat itu sikap suaminya berubah dan hubungan keduanya semakin menjauh.

 

“Apa pun yang saya lakukan menjadi tidak pernah cukup baik,” kata M.

 

Ia juga menyinggung komitmen yang pernah disampaikan suaminya kepada orang tuanya sebelum pernikahan. Menurut dia, suaminya pernah berjanji untuk menjaga dan membahagiakannya. Janji tersebut, kata M, bahkan dituangkan secara tertulis.

 

Sejak 2016, M mengaku hubungan keduanya semakin renggang. Ia menyebut komunikasi dan kedekatan sebagai pasangan suami istri tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya, sehingga harapan untuk memiliki anak bersama tidak terwujud.

 

Pengamat keluarga dan perkawinan yang dihubungi terpisah menyatakan bahwa perbedaan karakter dalam rumah tangga merupakan hal yang umum terjadi. Namun, komunikasi terbuka dan kesediaan memahami standar masing-masing pihak dinilai menjadi kunci menjaga keharmonisan.

 

“Masalah muncul ketika ekspektasi tidak dikomunikasikan secara jelas dan tidak ada ruang dialog yang setara,” ujarnya.

 

Kasus ini menjadi pengingat bahwa keberlangsungan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh lamanya kebersamaan, tetapi juga oleh kualitas komunikasi, komitmen, dan saling pengertian di antara pasangan.(*)

Ads

Ad Banner
Diberdayakan oleh Blogger.