JAKARTA — Tren anak-anak menyanyikan dan mendengarkan lagu bertema dewasa masih terus berlangsung. Fenomena ini bahkan kerap dianggap wajar karena diperkuat oleh paparan media sosial dan lingkungan sekitar.
Sejumlah pengamat menilai, kebiasaan tersebut dapat membawa dampak beragam, baik positif maupun negatif, tergantung pada usia anak dan konteks pendampingannya.
Dari sisi positif, menyanyikan lagu yang populer di kalangan orang dewasa dinilai dapat membantu anak mengembangkan kreativitas serta ekspresi diri. Aktivitas bernyanyi juga bisa melatih rasa percaya diri, terutama ketika anak tampil di depan umum. Selain itu, paparan lirik yang lebih kompleks berpotensi memperkaya kosakata dan kemampuan berbahasa.
Namun, di sisi lain, sejumlah pakar mengingatkan adanya risiko yang perlu diwaspadai. Psikolog anak Dr. Seto Mulyadi menilai lagu memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan karakter. Menurut dia, jika anak terlalu sering mendengarkan lagu bertema perselingkuhan, pengkhianatan, atau kegalauan yang intens, ada kemungkinan anak menyerap nilai atau perilaku negatif yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya.
“Lagu bisa menjadi media belajar. Jika temanya belum sesuai usia anak, dikhawatirkan anak meniru atau memahami pesan yang belum tepat,” ujarnya dalam sejumlah kesempatan.
Beberapa dampak negatif yang kerap disoroti antara lain ketidaksesuaian lirik dengan usia anak, potensi kesalahpahaman terhadap makna lagu, hingga tekanan psikologis saat anak merasa harus tampil sempurna membawakan lagu yang sebenarnya belum ia pahami.
Paparan lagu dewasa juga dinilai dapat memengaruhi kestabilan emosi anak. Pada tahap perkembangan tertentu, anak belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang matang. Lirik yang sarat konflik atau kesedihan mendalam dikhawatirkan memengaruhi persepsi dan sensitivitas emosional mereka.
Selain itu, kebiasaan tersebut disebut berpotensi mendorong anak untuk “dewasa sebelum waktunya”. Pakar perkembangan anak mengingatkan bahwa anak bukanlah versi mini orang dewasa. Mereka tetap membutuhkan ruang tumbuh yang sesuai dengan dunia dan tahap usianya.
Karena itu, peran orangtua dinilai sangat krusial. Orangtua diharapkan aktif mendampingi anak saat mengakses media, termasuk dalam memilih lagu yang didengarkan. Pendampingan bukan semata melarang, melainkan juga memberi pemahaman mengenai isi dan makna lagu.
Orangtua diibaratkan sebagai “badan sensor” pertama dalam keluarga yang bertugas menyaring konten sebelum dikonsumsi anak. Dengan bimbingan yang tepat, musik tetap dapat menjadi sarana positif untuk mengembangkan kreativitas, rasa percaya diri, dan kecintaan anak terhadap seni tanpa mengabaikan aspek tumbuh kembangnya.
Di tengah derasnya arus tren digital, keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan perlindungan nilai menjadi tantangan bersama, baik bagi keluarga maupun masyarakat.
