Maya
IBN mengungkapkan alasannya tidak menerima pembagian aset sebagaimana
tercantum dalam akta kesepakatan perceraian. Menurut pengakuannya, sebagian
aset yang dimasukkan dalam kategori harta bersama sebenarnya merupakan warisan
keluarga.
Dengan liciknya
sebelum Wwi pergi meninggalkan Maya, Wwi meminta Maya untuk mengeluarkan semua
sertifikat tanah atas nama Maya Agustini dengan alasan bahwa Wwi ingin
membayarkan semua pajak atas tanah diatas tanah warisan Keluarga.
Bahkan Wwi
pernah memanggil sejumlah keluarga untuk mengukur tanah yang bersertifikat atas
nama Maya Agustini untuk dibangunkan 5 Ruko 3 lantai agar Maya bisa hidup
mandiri jika kelak Maya ditinggalkan oleh Wwi sebagai wujud tanggung jawab Wwi
yang telah meminta Maya untuk menyembunyikan pernikahan dan membohongi rekan-
rekan kerjanya.
“Sebagian
tanah itu adalah warisan dari orang tua saya, bukan hasil kerja bersama,”
ujarnya.
Ia
menjelaskan bahwa sebelumnya terdapat pernyataan yang menyebut aset tersebut
sebagai hasil kerja sama selama pernikahan. Namun, menurut versinya, tidak
seluruhnya demikian.
Lebih
lanjut, ia menceritakan bahwa sebelum berpisah, mantan suaminya sempat meminta
dokumen-dokumen tertentu, termasuk akta dan pembayaran pajak tanah. Ia mengaku
tidak menaruh kecurigaan saat itu.
“Saya
diminta mengeluarkan semua akta karena katanya pajaknya mau dibayarkan. Saya
tidak terpikir kalau itu kemudian diklaim sebagai harta bersama,” tuturnya.
Ia juga
menyebut adanya janji yang disampaikan sebelum perceraian terkait jaminan
tempat usaha agar ia tetap memiliki standar hidup yang layak. Namun, menurut
pengakuannya, realisasi dari janji tersebut tidak ia rasakan setelah perceraian
terjadi.
Selain
persoalan aset, ia mengungkapkan adanya perbedaan pandangan dalam rumah tangga
terkait kebahagiaan. Ia menyebut pasangannya beberapa kali menyatakan tidak
bahagia dalam pernikahan.
“Saya
tanya, tidak bahagianya karena apa? Kalau memang ada yang kurang, mari kita
cari solusi,” katanya.
Menurutnya,
ia tidak pernah mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai hal tersebut. Ia
juga mengingat kembali pernyataan pasangannya pada masa awal hubungan yang
menginginkan dirinya memiliki karakter yang serupa.
“Dia
pernah bilang ingin semua karakter saya berubah menjadi seperti dia,” ujarnya.
Namun, ia
berpendapat bahwa karakter seseorang tidak dapat diubah sepenuhnya karena
merupakan bagian dari kepribadian dasar. Ia merasa telah diterima apa adanya
saat memutuskan menikah, sehingga pernyataan mengenai ketidaksempurnaan menjadi
hal yang membingungkannya.
“Kalau
sejak awal sudah menerima, kenapa kemudian mengatakan tidak bahagia karena saya
tidak sempurna?” tuturnya.
Hingga
berita ini ditulis, belum terdapat tanggapan resmi dari pihak lain terkait
pernyataan tersebut. Perbedaan pandangan ini menjadi bagian dari dinamika yang
terungkap dalam proses perceraian yang telah diputus pengadilan.
