test

Maya IBN Ungkap Tekanan Psikologis dan Dinamika Proses Perceraian


Maya IBN membagikan pengalamannya terkait proses perceraian yang ia jalani. Ia menyebut sebelum penandatanganan akta, dirinya mengalami dilema dan tekanan secara emosional.

 

Menurut pengakuannya, ia menerima edukasi dari kuasa hukumnya yang pada intinya menyampaikan bahwa apabila suami telah menjatuhkan talak, maka istri tidak memiliki banyak pilihan selain menerima keadaan tersebut.

 

“Sebagai perempuan, saya dinasihati untuk menerima apa yang dikatakan suami. Kalau sudah ditalak, artinya saya bukan istrinya lagi,” ujarnya.

 

Namun, ia memahami bahwa secara hukum negara, proses tersebut belum sepenuhnya berkekuatan tetap. Ia mengaku berulang kali dinasihati untuk bersabar, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan melanjutkan kehidupan.

 

Dalam kondisi merasa ditinggalkan tanpa penjelasan yang jelas, ia mengaku kesulitan menerima keadaan. Ia juga menyampaikan bahwa setelah menandatangani dokumen tertentu, ia diingatkan mengenai konsekuensi hukum apabila membatalkan atau menolak kesepakatan tersebut.

 

“Saya diminta ikhlas dan menjalani sesuai prosedur,” tuturnya.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa dalam periode tersebut kondisi kesehatannya menurun. Menurut penuturannya, ia mengalami gangguan kesehatan yang membuatnya bolak-balik menjalani perawatan di rumah sakit. Keluarga disebut turut menyaksikan kondisi fisik dan mentalnya yang dinilai rapuh.

 

Selain itu, ia menceritakan pengalaman di kediamannya saat itu yang menurutnya menambah tekanan psikologis. Ia kemudian memilih kembali tinggal bersama keluarga karena merasa lebih aman dan mendapatkan dukungan sosial.

 

“Saya memilih tinggal di rumah keluarga. Meski lebih kecil, tapi ada banyak orang dan situasinya lebih mendukung,” katanya.

 

Ia juga menjelaskan bahwa rumah kontrakan sebelumnya masih memiliki sisa masa sewa. Namun, dengan keterbatasan kondisi dan tidak adanya karyawan seperti sebelumnya, ia mengaku tidak sanggup tinggal sendirian di rumah tersebut.

 

Selama proses persidangan berlangsung, ia menyebut lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah.

 

“Selama empat bulan saya fokus salat dan berdoa,” ujarnya.

 

Dalam salah satu persidangan, ia mengaku sempat ditanya oleh hakim mengenai kesediaannya untuk bercerai.

 

“Awalnya saya bilang tidak mau. Tapi kemudian saya diminta mengikuti prosedur yang ada,” tuturnya.

 

Ia menambahkan bahwa pernyataan tersebut disampaikan dalam situasi yang menurutnya penuh tekanan.

 

Hingga kini, belum terdapat keterangan resmi dari pihak lain terkait pernyataan tersebut. Proses hukum sendiri telah berjalan sesuai mekanisme persidangan yang berlaku.

Ads

Ad Banner
Diberdayakan oleh Blogger.